Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Maret 2009

SYIKIFAT

saudaraku,
aku memberikan judul untuk blog ini dengan "SYIKIFAT", lalu seorang sahabat SMU melalui FB (Amelia Fauzia) memintaku untuk menorehkan mengapa aku menuliskannya sebagai judul dari blog ini.

hihihi hicks,
mungkin aku terlalu konvensional atau konservatif atau bahkan tradisionil akan tetapi aku menuliskannya agar blog ini kelak dapat diteruskan visi dan misinya oleh keturunanku kelak wiiii ... (macam sudah berbau tanah kali ya ... padahal si iya).

SYIKIFAT adalah sebenarnya merupakan singkatan dari 3 nama anak-anaku, yaitu, anak tercinta pertamaku, si sulung Syifa Sayla Ramadhani (dia itu lahirnya pas 24 Ramadhan dan pas juga di tanggal 14 februari, lalu yang kedua adalah jagoanku si cowok gendutku, jagoan karateku dia tahun ini 2009 baru di sabuk biru, namanya Banu Muhammad Al Kindy, dia lahir pas tanggal 15 Oktober lalu yang ketiga adalah cewek pengaturku si ratu kecil yang tajam analisanya, dia bernama Aa Zia Fathiya Prameswari dia lahir pas tanggal 8 Juli sama karakter umumnya dengan ayahnya, namun dia lebih keras dan cara conductingnya lebih ok

hihihi hicks ...

Rabu, 04 Maret 2009

jalan hidupku edisi ampe

Bsimillahirohmanirohim,
Assalamu 'alaykum, wr, wbr,

saudaraku,
sebelum aku lanjutin ke jalan hidupku edisi ampe ini, ada baiknya kalo kita sejenak merenung, sejenak menundukkan kepala, membuka hati, jiwa dan seluruh perasaan serta fikiran kita hanya untuk DIA, kepadaNYA, karenaNYA, di dalamNYA dan bersamaNYA ... seluruh golak dada sebagai keinginan harus diakui terkadang bahkan sering dan acapkali jauh dari apa yang DIA sudah jelaskan kepada kita tentang keinginanNYA, bila sudah tresadarakan diri bahwa kita masihlah sangat jauh dariNYA, jauh dengan apa yang sudah DIA jelaskan buat kita di dalam kitabNYA, malu kita ... untuk itu mari kita bersama-sama berjuang, memperjuangkan diri untuk bangkit menatap arahanNYA, tuntunanNYA, contoh kekasihNYA lalu mari kita saling mengingatkan diri kita satu sama lainnya untuk selalu mengingatNYA di dalam relung jiwa dalam hati kita, mengingatNYA dalam gerak fikiran kita, melalui basahnya lisan kita dan terwujud dalam tindak tanduk perbuatan jasamani kita. agar kita mampu menjadi insan kamil ... amin

saudaraku,
awalnya 9 anak yang tak berbahasa indonesia dengan baik alias amat terbata-bata n aku sendiri belum tahu acan-acan tentang bahasa Bali, komunikasiku dengan mereka ya ... bahasa Tarzan atawa body language aja ... hehehe sukur mereka cepat mengerti dan mampu menguasai bahasa Indonesia dengan baik.

mengasramakan anak-anak Islam di lingkungan desa adat Hindu di desa Sembung kecamatan Kerambitan kabupaten Tabanan Bali bukanlah hal yang mudah, artinya sudah beda agama, beda kultur, beda cara pemikiran, ketersinggungan itu mudah tersulut. bahkan sampai di tingkat pejabat pemerintahan di lingkungan dinas sosial yang pernah dihapuskan oleh Mbah Gusdur. proses legalisasi operasional terasa dipersulit sekali, sukur doa-doa anak itu sangatlah diijabah olehNYA hingga dalam waktu relatif singkat jumlah santri di rumah selauas bangunan 2,5 are dan tanah seluas 4 are itu terasa penuh sesak meriah tatkala jumlah anak-anak mencapai 23 anak-anak putra putri.

bisa dibayangkan, rumah seluas 2,5 are dengan 4 kamar (1 kamar pengasuh pria, 1 kamar pengasuh wanita dan bibi yang membantu masak, 1 kamar aspi dan 1 kamar lagi aspa), wauw ... asik kalo lagi latiyan tahajud ... ude duinguin sekali, asik pokoknya deh ...

karena keterbatasan tempat membuat kami khawatir akan komunikasi putra dan putri tak terkontrol dengan baik, alhamdulillah kami mendapatkan lahan seluas (saat ini -+ 1 hektar) di jarak -+ 2,5 km dari lokasi lama, kami hijrahkan anak-anak dengan berjalan kaki. Masyarakat setempat semakin antusias dan tertarik dengan kegiatan pendidikan kami itu. event penting yang kami putuskan untuk pengembangan dakwah ini.

tahun 1992 kami mendapatkan akte notaris dari almarhum notaris Amir Syarifuddin di Denpasar, digratiskan pula oleh beliau.

tahun 1996-1997 kami didorong oleh kepala sekolah SMPN 2 Kerambitan untuk membuka sekolah di tingkat SLTP dan lahirlah MTs Bali Bina Insani dilanjutkan dengan membuka MA Bali Bina Insani di tahun 2000

uuu ... asik punya deh ... tapi belum kan aku ceritain saat musim paceklik berkepanjangan tatkala proses reformasi digulirkan dan saat kesulitan melanda Bali dengan peristiwa BOM I-nya ... ikuti terus ya ... thank's

Kamis, 26 Februari 2009

Jalan hidupku edisi tyga

sobat,
Pada bulan Oktober - nOvember 1991 dengan amanah dari Drs H Ktut Imaduddin Djamal, SH dan abang tercintanya H Muhammad nengah Sururuddin aku bawa 9 anak yatim piatu dan terlantar dari Pegayaman menuju desa Sembung meranggi kecamatan kerambitan kabupaten tabanan Bali ke sebuah rumah wakaf dari Hj Dewa Pere di atas tanah seluas 4 are, pas di ujung jalan (tikungan tajam jalur utama propinsi dari tabanan ke negara, dekat dengan kantor kecamatan kerambitan, kantor polsek kerambitan, puskesmas kerambitan en ... dekat dengan SLB C kerambitan)

9 anak itu minim kemampuan bahasa Indonesia, sedikit bahasa melayu karena setiap hari mengaji kitab perukunan yang tulisannya Arab pegon (bahasa melayu tulisan arab), ofcourse bahasa ibu lah yang dipakae, yaitu bahasa Bali. usia mereka pada waktu itu berkisar 7 - 9 tahun.

Seminggu pertama observasi lokasi pasar dan sekolah anak-anak sambil adaptasi lingkungan. yah ... memang anak-anak is anak-anak, jadi ketika mereka melihat saudara Hindu sedang sembahyang (maturan) di sanggah rumah, sanggah di sawah dan tempat lainnya, mereka selalu waspada mengintip n pasti sobat bisa tebak, karena isi canangnya yang menarik (alat sembahyangnya selalu diisi dengan buah, kue kering bahkan kadang telor dan daging). Jadi begitu orang selesai sembahyangan, mereka ... hihihi hicks ... mereka ppolos saja menghampiri canang tersebut dan mengambil isi yang menurut mereka bisa dimaem ... syukurnya belum pernah ketahuan jadi aman saja ...

9 anak beda karakter, background pendidikan minim, jadilah rumah pondok yatama kita itu sebagai sasana tinju bebas.

Seiring perjalanan waktu, mereka kita kirim ke sekolah negeri (biar murah biayanya hihihihi hicks), kesadaran bergaul secara lebih santun semakin matang. alumni pertama saat ini sudah aa yang bekerja di sebuah travel agent sebagai asisten manager operasional.

Tahun berjalan, dari 9 anak, bertambahlah santri dan anak asuh, hingga kini berjumlah 174 anak asuh / klien. bekerjasama dengan departemen agama, departemen pendidikan dan kebudayaan serta departemen sosial.

La Royba nama yayasan yang kami pilih, sebagai payung hukum dengan aktifitas antara lain;
1. Pondok Pesantren Bali Bina Insani
2. Madrasah Tsanawiyah Bali Bina Insani
3. Madrasah Aliyah Bali Bina Insani
4. Pondok Yatama
5. Koperasi usaha Bersama

Cerita menarik lainnya tentang la Royba? ... ikuti jalan hidupku edisi berikutnya ...

Selasa, 24 Februari 2009

jalan hidupku edisi duwa

Pegayaman, masih inget kan ma narasiku ttg pegayaman di edisi atu? pastinya lah ...
ya, pegayaman sebuah desa muslim asli keturunan, sekarang si jumlah penduduknya -+ 900 KK artinya totalnya -+ 6.000 an umat. sekarang sudah campur aduk darahnya, ada yang berdarah jawa, ada yang berdarah lombok, ada yang berdarah sulawesi, ada yang berdarah sumatera.

pekerjaan adalah petani, buruh tani, guru, tukang kayu, peternak, dan sebenarnya mereka cukup fanatik. akhir era 1960an, para orang dewasanya masih terbiasa bivcara dengan bahasa arab pasaran, sambil ngupi pagi n dendeng sapinya.

nyruput kopi asli pegayaman itu paling nikmat kalo diminum serbuk plus air puanasnya lalu kita nggado sisitan gula arennya. nas gitel pokoknya ... puanas legi lan kentel

budaya Bali yang diakulturasi juga merona dalam kehidupan masyarakat pegayaman, ada burdah yang berpakaian adat asli bali, ada hadrah dengan pakaian putih berkopiah hitam celana hitam berkacamata, bergaya pencak, ada jajan bantal dan masih buanyak lagi lainnya

eh sobat ... di desa pegayaman ada sebuah air terjun yang ketinggiannya dan view-nya lebih eksait dari pada air terjun gitgit yang lokasinya hanya -+ 1 km dari pegayaman ke arah selatan.

tiap hari mereka ngaji kitab perukunan (buku yang membahas bab rukun ibadah), kitab tajul muluk, kitab perhiasan bagus dan kitab-kitab lainnya.


di sisi yang lain, di tahun sebelum 1994 umat pegayaman, kalo ada orang kampung lainnya yang lewat dan membawa anjing ato babi, bila si anjing atau si babi dibiarkan bebas (tidak diikat) maka anak-anak kecil mereka bersiap dengan batu untuk melempari si anjing dan si babi dengan perkataan cepat bawa keluar dari desa kami, mereka itu najis dan haram ...

gaya pacaran asli mereka adalah pada malam hari di atas jam 21.00 - 03.30. si cowok apel ke rumah cewek, namun tidak berjumpa dan tidak bertatap muka. melalui daun jendela yang tertutup mereka ngobrok asik sampe pagi, si cowok ngobrol dengan kerudungan sarung karena kedinginan, biasanya sambil merokok

tanggal 1 juli 1990 aku mulai kegiatan ber pesantren ria di desa pegayaman ini. pastilah pro dan kontra terjadi, yang agak risi adalah ketika ada tonjokan pertanyaan sampeyan ini ahlus sunnah atau muhammadiyah? kami ini soalnya ahlus sunnah wal jamaah ... mangsud mereka adalah mereka ini pengikut organisasi NU atau nahdliyyiin ... hihiihihihii hiks ... aku cuma menjawab saya tidak tahu muhammadiyah tapi saya juga ahlus sunnah tapi bukan NU ... mereka jadi tambah puyeng ...

kewajiban menunaikan doa qunut, awalnya begitu kuat pemahaman ini, namun sutkur alhamdulillah akhirnya mereka yang begitu mulai terbuka tatkala semakin kita bukakan kitab-kitab fiqih dan kita perlihatkan dunia luar, yang berbeda

murid alias santri yang ada pada waktu itu hanya 9 anak dan tanpa backing dana, kami hanya berjalan secara pasrah dan tidak berfirkir kalii ... soalnya dengan beberapa rekan guru seperti sahabat tercinta (alm) Ustadz Badrul Iman (beliau ini faqih, sederhana, pekerja keras, ramah ... pokoknya baik dach), ustadzah Usnawan yang sampai sekarang masih turut berjuang, lalu ada ustadzah nur laila, ustadzah rohmi aminah, ustadzah hairun nada, ustadz nur kholiq, ustadz agam indrapura, ...
murid atau santripun meningkat tajam. dari 9 anak, tahun berikutnya menjadi 174 santri papi, lalu tahun berikut kita press menjadi 75 santri yang solid

tiap hari berbahasa arab dan inggris sebisa-bisanya. Tahun berikutnya ikut seleksi tilawail qur'an tingkat propinsi dan menjadi juara harapan satu, karena hanya belajar dalam waktu 3 minggu saja hihihi

tiap tahun kami diundang panitia perlombaan tari kontemporer di tingkat kabupaten dan propinsi, di setiap penghujung tahun selama -+ 4 tahun hotel Grand Hyatt Nusa Dua Bali selalu mengundang untuk peringatan menyambut tahun baru

kita buka lembaga pendidikan dari Taman Al Qur'an di tingkat TK, madrasah diniyah awaliyah, diniyah wustho dan MTs Terbuka sesuai program dari Depag pusat, sampai sekarang berjalan baik ... alhamdulillah

Jalan Hidupku edisi atu

bismillaah,
sobat aku kan ceritakan jalan hidupku yang selalu penuh dengan bonus-bonus dari Allah seperti yang persis Allah berikan buat antum semua ... hahaha persis ada gelombang yang membuat suasana semakin dinamis. Namun jalan hidupku yang setengah saja aku gebyah uyah saat ini.

Aku masih inget lah pas tahun 1990 lalu aku diluluskan oleh Allah di sebuah pesantren modern Darunnajah namanya hmm lokasinya di Jakarta, bagian selatan pasnya di Ulujami. KH Mahrus Amin selaku pimpinan tunggal pada saat itu, memanggil aku dan bertanya mengapa kamu mengisi questioner pengabdian dengan mengisi keinginan mengabdi bukan pada daerah yang sudah disebutkan dan mengapa harus Bali? ... sub-haanalloh

walaupun harus test case dulu, karena pada waktu itu beliau KH Mahrus Amin mengirim ku ke sebuah pesantren Yatim An Najah di Cirebon, yang sukur dalam waktu sebulan sudah bisa meriah lagi, n aku dipanggil lagi ke Darunnajah. Lalu keesokan harinya -+ tanggal 28 Juni 1990, beliau mengirimku ke Bali, naek bis lah ... 26 jam perjalanan ... deg-degan juga sebenarnya soalnya pan ... udah lamaaa banget aku gak ke Bali lagi semenjak taon 1988 ma 4 konco

sukur di jemput oleh sobat wayan Dzohiruddin seorang siswa SMA Muhammadiyah, selevel lah n sama gilanya ... kita dibawa ke rumah Drs H Ketut Imaduddin Djamal, SH di perumnas Monang Maning

lalu seminggu di situ, aku sama Asep Wahyuddin bergerak ke Singaraja kabupaten Buleleng tepatnya dijemput oleh abang kandung dari Drs H Ketut I Djamal, SH yaitu H Muhammad Nengah Sururuddin bersama sopir setianya Urya, melewati daerah Bedugul, kami disambut kabut tebal nyaris tak terlihat jalanan apalagi view yang sebenarnya amat sangat eksotis ... sub-haanallooh udara yang keluar dari hidung aja berasep, apalagi tatkala kita bicara wuuui masya Allah ... duinguin bro

masuk pegayaman? masya Allah, perut kita dimixer rasanya, tikang tikung seperti jalan di alas kumitir jember, atau kaya jalan di alas roban, udah terjal bilak bilok lagi ... yang gak biasa siapin plastik ya ... kalo ke sono, kalo gak ya gak usah la ...

Pegayaman adalah sebuah desa yang secara histori termasuk awal desa muslim murni di Bali, sejarah mencatat mereka itu keturunan dari (ada yang bilang banyak deh ... sumbernya, contohnya ... ni nih) Blambangan jawa timur tapi yang Islam, juga riwayat laen bilang dari mataram Islam, nyang penting adalah tercatat 4 panglima beserta keluarga dan pasukan semuanya adalah muslim dan dikirim ke Buleleng untuk membantu rahja Panji Sakti melawan ekspansi raja Karang Asem dan hasilnya adalah kemenangan untuk pihak Buleleng. ending yang bagus ya dan pastinya Raja Panji menghadiahkan kepada mereka ini daerah-daerah untuk dihidupkan.

nama pegayaman asalnya adalah pegatepan, buah gatep adalah sama dengan buah gayam, karena di zaman itu buah gayam atau gatep sangat buanyak di daerah tersebut. sempat sejarah mencatat salah satru usulan nama desa itu adalah pengayoman yang artinya adalah kandang gajah, karena yang hijrah ke daerah tersebuit dulunya membawa gajah untuk berperang.